Kamis, 11 Agustus 2016

Pasraman Kilat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Undiksha di Desa Timpag, Kec. Kerambitan, Kab. Tabanan





Pendidikan pasraman merupakan kebangkitan baru dalam masyarakat Bali modern abad XXI sebagai proses reflektif tradisionalisasi di tengah globalisasi. Pendidikan nonformal yang berbasis desa pakraman berupaya mengusung kedalaman kultur, ketinggian spiritual dan keterampilan praktikal hadir sebagai upaya penyeimbang pengembangan jati diri dan karakter bangsa.  
        Pendidikan pasraman sangat berpotensi untuk membangkitkan jati diri, budi pekerti, dan masyarakat susila. Wawasan kebudayaan yang perlu dibangun tidak hanya harus berorientasi pada masa lampau, namun yang lebih penting adalah pada keseimbangan dalam transmisi keluhuran masa lampau, realitas faktual masa kini dan peluang serta tantangan masa depan. Perspektif wawasan kebudayaan perlu dimaknai sebagai penguatan nilai luhur lokal, pengembangan nilai baru melalui keterbukaan nasional, serta pemberdayaan individu dan kolektif dalam kompetensi global untuk harmoni, kesetaraan, serta kesejahteraan.

         Pasraman kilat ini dimulai pada tanggal 31 Juli 2016, dengan kreasi dan inovasi yang dilaksanakan, maka mahasiswa KKN Undiksha 2016 menggelar kegiatan pasraman kilat ini. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Mahasiswa Kuliah Nyata (KKN) mendapatkan sambuatan yang luar biasa dari warga Desa Timpag. Kegiatan ini dihadiri oleh  Kepala Desa Timpag, 3 Bendesa Adat, 6 Kepala Dusun, dan Pemateri.  Peserta yang ikut berpartisipasi dalam meramaikan kegiatan ini berasal siswa SDN 1 Timpag, SDN 2 Timpag, SDN 3 Timpag.
Kegiatan pasraman kilat dilaksanakan agar generasi penerus agama Hindu mampu terus melestarikan kegiatan upacara agama. Dengan tujuan ini Mahasiswa KKN Undiksha Singaraja, mengadakan pasraman kilat di Desa Adat Timpag, apa yang diberikan dalam pasraman diharapkan para anak-anak Sekolah Dasar di Desa Timpag mulai mengenal jati diri sebagai Umat Hindu.


Dalam kegiatan Pasraman ajarannya lebih menekankan dari segi agama baik dari segi bertingkah laku dengan mengajarkan Budi Pekerti, cara pembuatan banten/upakara dengan mengajarkan mejejaitan dan menganyam, mengendalikan pikiran melalui Yoga, nyanyian pujaan dengan mengajarkan Dharma Gita (mekidung). Dari pengajaran tersebut setidaknya anak –anak mendapat suatu pelajaran yang nantinya dijadikan skill dalam menjalankan aktivitas nantinya di dalam masyarakat.

         



Tidak ada komentar:

Posting Komentar