Pendidikan pasraman merupakan kebangkitan baru dalam masyarakat Bali modern abad XXI sebagai proses reflektif tradisionalisasi di tengah globalisasi. Pendidikan nonformal yang berbasis desa pakraman berupaya mengusung kedalaman kultur, ketinggian spiritual dan keterampilan praktikal hadir sebagai upaya penyeimbang pengembangan jati diri dan karakter bangsa.
Pendidikan pasraman
sangat berpotensi untuk membangkitkan jati diri, budi pekerti, dan masyarakat
susila. Wawasan kebudayaan yang perlu dibangun tidak hanya harus berorientasi
pada masa lampau, namun yang lebih penting adalah pada keseimbangan dalam
transmisi keluhuran masa lampau, realitas faktual masa kini dan peluang serta
tantangan masa depan. Perspektif wawasan kebudayaan perlu dimaknai sebagai penguatan
nilai luhur lokal, pengembangan nilai baru melalui keterbukaan nasional, serta
pemberdayaan individu dan kolektif dalam kompetensi global untuk harmoni,
kesetaraan, serta kesejahteraan.
Pasraman kilat ini dimulai pada tanggal 31 Juli
2016, dengan kreasi dan inovasi yang dilaksanakan, maka mahasiswa KKN Undiksha
2016 menggelar kegiatan pasraman kilat ini. Kegiatan ini diselenggarakan oleh
Mahasiswa Kuliah Nyata (KKN) mendapatkan sambuatan yang luar biasa dari warga
Desa Timpag. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Timpag, 3 Bendesa
Adat, 6 Kepala Dusun, dan Pemateri. Peserta yang
ikut berpartisipasi dalam meramaikan kegiatan ini berasal siswa SDN 1 Timpag, SDN 2 Timpag, SDN 3 Timpag.
Kegiatan
pasraman kilat dilaksanakan agar generasi penerus agama Hindu mampu terus
melestarikan kegiatan upacara agama. Dengan tujuan ini Mahasiswa KKN Undiksha Singaraja, mengadakan pasraman
kilat di Desa Adat Timpag,
apa yang diberikan dalam pasraman diharapkan para anak-anak Sekolah Dasar di
Desa Timpag mulai mengenal jati diri sebagai Umat Hindu.
Dalam
kegiatan Pasraman ajarannya lebih menekankan dari segi agama baik dari segi
bertingkah laku dengan mengajarkan Budi Pekerti, cara pembuatan banten/upakara
dengan mengajarkan mejejaitan dan menganyam, mengendalikan pikiran melalui
Yoga, nyanyian pujaan dengan mengajarkan Dharma Gita (mekidung). Dari
pengajaran tersebut setidaknya anak –anak mendapat suatu pelajaran yang
nantinya dijadikan skill dalam menjalankan aktivitas nantinya di dalam masyarakat.








